2. Morfem Utuh dan Morfem Terbagi
Morfem utuh merupakan morfem yang secara keseluruhan komponennya menyatu dan utuh dalam suatu posisi. Contohnya, kata “minuman” terdiri dari dua morfem yaitu morfem bebas {minum} dan morfem terikat {-an}. Dimana masing-masing morfem itu tergolong ke dalam morfem utuh.
Kemudian, morfem terbagi merupakan morfem yang posisi komponennya terpisah. Sementara morfem terikat {per-/-an} pada kata “perburuan”, misalnya, disela oleh morfen bebas yaitu {buru}, sehingga komponennya terpisah dan terbagi, yaitu sebagian berada di depan bentuk dasar dan sebagian lagi berada di belakang bentuk dasar.
3. Morfem Dasar, Morfem Pangkal, dan Morfem Akar
Morfem dasar merupakan salah satu bentuk yang menjadi dasar bentukan dalam proses morfologis. Bentuk dasar tersebut bisa berupa morfem tunggal, misalnya saja, gambar, main, dan lain sebagainya.
Dalam Bahasa Indonesia, gambar dan main adalah morfem tunggal yang menjadi bentuk dasar dari kata bermain dan juga mainan, lalu bergambar dan menggambar.
Morfem dasar juga bisa berupa gabungan dari morfem, misalnya saja, kata perbudak. Morfem dasar perbudak (adalah gabungan dari morfem bebas “budak” dan morfem terikat yaitu “per-”) menjadi dasar bentuk dari kata “memperbudak”.
Sementara morfem pangkal atau stema merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan bentuk dasar dalam proses infleksi ataupun proses pembubuhan afiks inflektif. Dalam Bahasa Indonesia sendiri, morfem pangkal bisa dilihat pada kata lain yang sudah dibubuhi afiks ber- menjadi kata bermain.
Morfem pangkal yang berasal dari kata bermain adalah main, yang mana merupakan morfem dengan kategori verba. Saat dibubuhi afiks ber-, morfem pangkal menjadi sebuah morfem yang tetap berkategori verba. Sehingga morfem pangkal adalah bentuk dasar dari bentukan yang lebih tinggi namun tetap mempertahankan kategori kata yang sudah dimiliki oleh morfem pangkal.
Berikutnya, bentuk yang tersisa sesudah semua afiksnya ditanggalkan, baik itu afiks infleksional ataupun afiks deverensionalnya disebut dengan istilah morfem akar.
Misalnya saja, dalam Bahasa Indonesia kata memperbaiki adalah morfem berimbuhan yang mempunyai morfem akar. Baik itu yang mengalami proses afiksasi dengan penambahan morfem per-i menjadi perbaiki, kemudian perbaiki ditambah dengan morfem terikat mem- menjadi memperbaiki.
Kata
Kata merupakan sebuah bentuk bebas yang paling kecil. Akan tetapi, morfem mungkin saja termasuk ke dalam keseluruhan kata ataupun merupakan bagian dari suatu kata. Jadi, bisa dikatakan juga bahwa kemungkinan besar, sebenarnya morfem adalah satuan kata yang paling kecil.
Untuk perbedaan yang paling mendasar dari morfem dan juga kata adalah kata bisa berdiri sendiri dan bisa membentuk suatu makna bebas. Sebagai satuan gramatik, kata sendiri terdiri satu ataupun beberapa morfem.
Suatu kata bisa berupa bentuk tunggal ataupun terdiri dari satu satuan gramatikal dan bisa juga berupa bentuk kompleks atau terdiri dari beberapa satuan gramatikal. Dalam artian lain, bentuk kompleks tersebut dibangun oleh satuan gramatikal yang lebih kecil.
Klasifikasi Kata
Dengan melihat jumlah morfem yang membentuk sebuah kata, bisa dibedakan menjadi 2, yaitu:
- Kata monomorfemis yang mana terdiri dari satu morfem seperti meja, burung, pohon, nasi, ibu, dan lain sebagainya.
- Kata polimorfemis adalah kata yang terdiri dari dua morfem atau lebih, misalnya saja, membeli, makanan, kue-kue, duduklah, jejaring, rumah makan, mitra kerja, temanmu, dan lain sebagainya.
Satuan Gramatik Lainnya
Morfem, kata, frasa, dan klausa, dan lainnya sebagai satuan gramatika ataupun gramatika. Satuan gramatik merupakan berbagai satuan yang mengandung arti, baik itu arti leksikal ataupun arti gramatikal. Pastinya, untuk memahami morfologi yang mempelajari tentang bentuk dan pembentukan sebuah kata, pemahaman terhadap satuan gramatika menjadi sangat penting.
Akan tetapi, beberapa satuan gramatika lebih relevan dengan cabang linguistik yang lainnya, seperti sintaksis dan semantik. Sementara satuan gramatika lainnya bisa dipelajari di pembahasan di bawah ini.
Proses Morfologis

Sumber: Google
Proses morfologis merupakan suatu proses pembentukan kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya. Kemudian, Ramlan juga membagi proses ini menjadi beberapa jenis atau klasifikasi, antara lain: afiksasi, reduplikasi, dan juga komposisi. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya:
1. Afiksasi
Afiksasi merupakan proses pembubuhan afiks atau imbuhan pada suatu morfem dasar atau bentuk dasar. Proses tersebut melibatkan unsur-unsur dasar ataupun bentuk dasar, afiks, dan juga makna gramatikal yang dihasilkannya. Contoh dari afiksasi sederhana yaitu:
- ajar + {ber-} > belajar
- ubah + {ber-} > berubah
- rupa + {ber-} > berupa
Jika dilihat dari posisi melekatnya bentuk dasar, afiks bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Prefiks: merupakan afiks yang telah ditambahkan di awal bentuk dasar, seperti misalnya me- yang ada pada kata menghibur. Prefiks ini bisa muncul bersama dengan sufiks ataupun afiks lainnya. Misalnya saja, prefiks ber- bersama dengan sufiks -kan pada kata berdasarkan.
2. Infiks: merupakan afika yang ditambahkan di tengah bentuk dasar. Dalam Bahasa Indonesia, infiks -el- yang ada pada kata telunjuk dan -er- yang ada pada kata seruling.
3. Sufiks: merupakan sebuah afiks yang ditambahkan pada posisi akhir bentuk dasar. Misalnya saja, dalam Bahasa Indonesia, sufiks -an yang ada pada kata bagian dan sufiks -kan yang ada pada kata bagaikan.
4. Konfiks: merupakan afiks yang berbentuk morfem terbagi, yang mana pada bagian pertama berposisi pada awal bentuk dasar dan yang bagian kedua berposisi pada akhir bentuk dasar. Di dalam Bahasa Indonesia, terdapat konfiks per-/-an seperti yang ada pada kata pertemuan, konfiks ke-/-an seperti pada kata keterangan, dan konfiks ber-/-an seperti pada kata berciuman.
5. Sirkumfiks: merupakan gabungan dari afiks yang bukan konfiks, seperti ber-/-an pada kata beraturan yang mempunyai makna “memiliki aturan”.
2. Reduplikasi
Menurut Ramlan proses reduplikasi ataupun pengulangan merupakan pengulangan satuan gramatik, baik itu keseluruhannya ataupun sebagian, baim itu dengan variasi fonem ataupun tidak. Hasil dari pengulangan tersebut disebut dengan kata ulang yang mana termasuk ke dalam kata majemuk. Sementara satuan yang diulang adalah bentuk dasar. Ada beberapa jenis reduplikasi, antara lain:
1. Pengulangan seluruh yaitu pengulangan untuk seluruh bentuk dasar, tanpa adanya perubahan fonem dan tidak berkombinasi dengan proses oembubuhan afiks, misal ya: sepeda menjadi sepeda-sepeda, pohon menjadi pohon-pohon, dan lain sebagainya.
2. Pengulangan sebagian yaitu pengulangan sebagian dari bentuk dasarnya. Hampir seluruh bentuk dasar pengulangan golongan ini berupa bentuk kompleks, misalnya: mengambil menjadi mengambil-ambil, berjalan menjadi berjalan-jalan, dan lain sebagainya.
3. Pengulangan yang berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks, di dalam jenis ini bentuk dasar yang diulang seluruhnya dan berkombinasi dengan proses pembubuhan afiks. Itu artinya, pengulangan itu terjadi secara bersamaan dengan proses pembubuhan afiks dan bersamaan juga dengan mendukung suatu fungsi, misalnya: kereta yang menjadi kereta-keretaan, pohon menjadi pohon-pohonan.
4. Pengulangan dengan adanya perubahan fonem, misalnya: bolak-balik yang terbentuk dari kata dasar balik yang diulang seluruhnya dengan perubahan fonem /a/ menjadi /o/, dan dari /i/ menjadi /a/.
Komposisi (Kata Majemuk)
Komposisi ataupun kata majemuk merupakan sebuah kata yang mempunyai makna baru yang tidak termasuk gabungan makna unsur-unsurnya. Kata majemuk ini dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu kata majemuk setara dan kata majemuk tidak setara. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya.
Kata Majemuk Setara
Kata majemuk setara biasanya disebut juga dengan kata majemuk kumulatif atau kata majemuk gabungan, yaitu kata majemuk yang bagiannya sederajat. Kata majemuk setara ini dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:
- Bagiannya terdiri dari wakil-wakil dari keseluruhan yang dimaksud, misalnya saja: kaki tangan, orang tua, tikar bantal, dan lain sebagainya.
- Bagiannya terdiri dari kata yang berlawanan, misalnya saja: tua muda, besar kecil, dan tinggi rendah.
- Bagiannya terdiri dari kata-kata yang memiliki makna hampir sama, misalnya: panjang lebar, susah payah, hancur lebur, dan lainnya.
Kata Majemuk tak setara
Kata majemuk tidak setara biasanya disebut juga dengan majemuk determinatif, yaitu kata majemuk yang tidak memiliki inti, umumnya kata majemuk ini terdiri dari:
- Kata majemuk yang memiliki susunan DM (diterangkan menerangkan), misalnya saja: raja muda, rumah obat, orang tua.
- Kata majemuk yang memiliki susunan MD (menerangkan diterangkan), misalnya saja: purbakala, bumiputera, maharaja.
Demikian ulasan mengenai pengertian morfologi @erjisa Official sampaikan, Terimakasih.